Posted by : fahmi abdillah
Thursday, January 22, 2015
Di sebuah petang yang lenggang,
Ku dapati samar-samar jejak yang tak habis tersapu angin
Tak jauh dari kerangka bangku taman yang nyaris runtuh,
Sepasang sayap tergeletak
Sekedar mencari dan menemukan yang tak lagi
dianggap ada,
sayap itu tengah bicara.
Kirinya menangis,
Ada ratap yang tak sempat diterbangkan.
Kanannya hanya diam,
Lupa bagaimana cara mengepakkan pesan
Sayap yang bisu, nyaris mati
Kemana harus dibawanya risau,
Yang pelan-pelan mengiris setiap ingatan
Kemana perginya tubuh yang menopang
Ia tak lagi tahu harus menyampaikan apa
Angin tak lagi mengenali sosok yang cukup tua,
Untuk ditinggalkan
Bahkan mungkin,
Langit telah menemukan sepasang sayap lain
Yang lebih kokoh, yang telah tahu kemana harus membawa
pesan bagi kehidupan
Hidup memang tak pernah menjadi sama,
Cinta bisa berbelok sesuka angin
Seperti tikungan.
Dan kemudian sayap,
Tak punya kuasa bila tak ada lagi yang menginginkannya.
Diam-diam kusempurnakan penghapusan jejak yang semula,
Samar,
Sambil menguburkan sayap yang tak lagi punya angin.
Kemudian, mengaus pelan
Berdesir bersama angin, menghilang perlahan.
Tak terusik angan
DGAS, 2014
Apik , eci juga mii
ReplyDeleteWeee... sumpah km yg buat? Apik ee
ReplyDeleteecii
ReplyDelete